Jeruk Bali Madu Andalan Jawa Tengah

 

Hmmm.... Suegerr tenan ..!

Itulah kalimat pertama kali yang terucap saat mencoba merasakan buah yang satu ini..yupzz.. Betul sekali,..apa lagi kalo bukan jeruk bali madu..rasa yang manis dan segar tanpa rasa asam akan membuat siapa saja yang mencicipi jeruk ini serasa meminum madu,
Pantas saja kalo jeruk bali madu yang berasal dari kota Pati ini menjadi salah satu komoditi unggulan di Jawa Tengah, tepatnya setelah nama Jeruk Bali Madu dipatenkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Kementrian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2008 dengan nomor sertifikat : 01/pvl/2008 oleh Bapak Tasiman SH, selaku Bupati Pati kala itu.

Sejak saat itu jeruk bali asal Desa Bageng kian di kenal oleh banyak orang, dan hingga saat ini sudah banyak Jeruk Bali Madu yang masuk ke pasar swalayan dan supermaket di seluruh Indonesia.

Hampir di setiap Pasar swalayan,pasar buah dan toko - toko buah di daerah Jawa Tengah menjual Buah yang Satu ini,selain Rasanya yang enak buah ini Juga mengandung banyak nutrisi dan khasiatnya yang luar biasa.

Di Kota Pati sendiri tanaman ini banyak di budidayakan khususnya di kecamatan Gembong, karena faktor lingkungan yang ideal, tanaman ini Tumbuh subur dan menjadi buah kebanggaan masyarakat Pati.

Desa Bageng sendiri Terletak di lereng Gunung Muria kecamatan Gembong Kabupaten Pati,berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kudus, jika anda pernah pergi Berziarah ke Sunan Muria (salah satu dari 9 orang wali songo) dari sana hanya menempuh perjalanan selama 15 menit.

Di daerah kudus terutama di sekitar gunung Muria juga terdapat banyak tanaman Jeruk Bali Madu, hal ini dikarenakan wilayah tersebut juga Berbatasan langsung dengan Desa Bageng sebagai sentra Jeruk Bali Madu, tapi dari segi Rasa, jeruk asal Pati dan Kudus berbeda.

Simpang siurnya asal-muasal pamelo berdaging merah itu membuat Trubus penasaran. Pada penghujung November 2006, Prakoso Heryono—penangkar yang pertamakali memperkenalkan pamelo muria kudus—bercerita. Buah yang dibawanya ke pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, berasal dari wilayah di kaki Gunung Muria. Secara administratif daerah itu termasuk ke dalam 2 wilayah : Kecamatan Gawe, kabupaten Kudus dan Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.

Nama pamelo muria kudus disematkan masyarakat kota kretek itu karena mereka percaya asal-muasal tanaman itu dari Kudus. Konon pada 1970-an ada sebuah kawasan elit di Kudus yang bernama daerah kauman. Pagar pekarangan di daerah itu tinggi-tinggi sehingga aktivitas penghuni dan isi pekarangan rumah tak bisa dilihat masyarakat sekitar.

Dari sebuah rumah milik H. Abdul Gofar, jeruk besar kerap muncul sebagai buah tangan untuk tetangga. Tak seorang pun berani memperbanyak tanaman itu karena sang pemilik orang yang sangat disegani.

Bibit cangkokan baru beredar di masyarakat Kudus setelah seorang tukang batu menyelundupkan cangkokan dan menanam di rumahnya. Sayang, cerita yang beredar di masyarakat Kudus itu tak bisa dilacak sampai ke tokoh kunci, sang tukang batu.

Titik terang muncul dari cerita H. Suradi, ayah mertua Sukir. Menurutnya, pada 1960-an Hj Fatma, seorang janda dari H. Zaini di Pati, dinikahi kyai terkenal asal Kudus bernama H. Abdul Gofar. Tak lama setelah menikah Abdul Gofar tinggal di Pati dan menanam 2 cangkokan jeruk besar yang berasal dari rumahnya di Kudus. Sepeninggal Gofar dan Ratna kedua tanaman itu mati merana. Beruntung pada 1972, Suradi yang bekerja pada Fatma diperbolehkan mencangkok 2 bibit untuk ditanam di ahlaman rumahnya di Pati.

Menyebar. Selama 14 tahun jeruk besar di halaman rumah Suradi tak terurus. Baru pada 1988, Sukir, menantunya, mencangkok 10 bibit untuk ditanam di lahan seluas ¼ ha. Ia tertarik menanam karena pada 1986 –saat baru menikah-- dari 2 pohon indukan itu diperoleh 1.000 buah. Total pendapatan Rp. 500-ribu. “Nilai itu setara dengan 2 anak sapi,” tutur Sukir.

Prediksinya tepat. Saat panen pertama kali, pada 1997, ia memperoleh pendapatan Rp. 10-juta dari 10 pohon. Nilai itu luar biasa karena tanah seluas ¼ ha miliknya hanya dihargai Rp. 6-juta.

Masyarakat Gembong gempar melihat harga jeruk bisa melampaui harga tanah. Sejak itulah tetangga Sukir mengikuti jejak menanam jeruk besar. Sang pionir pun memperluas penanaman hingga 2 ha sejak 1995-2003. Total jenderal ia memiliki 270 tanaman berbagai umur. Dari sanalah pada 2005 guru Sekolah Dasar itu memperoleh 5 ton setara Rp. 35-juta. Pada 2006, total panen dan pendapatan berlipat dua kali. Sukir menduga, saat ini di Kabupaten Pati tersebar 125.000 tanaman berumur 3-4 tahun.

Kudus pun tak mau ketinggalan. Menurut Moch. Tarom Amd, staf Dinas Pertanian Kabupaten Kudus, populasi mencapai 55.500 tanaman. Dari jumlah itu, 35.000 pohon sudah berproduksi ; 13.000 dewasa belum berroduksi dan 7.500 tanaman muda. Kelak 3-4 tahun ke depan, Pati dan Kudus bakal menyaingi Magetan, sentra pamelo di Jawa Timur.


Pamelo muria. Dari cerita itu Khairani mengusulkan satu nama untuk jeruk bali madu dan jeruk muria kudus. “Keduanya (Pati dan Kudus, red) memang berhak mengklaim nama itu. Namun, yang lebih tepat pamelo muria. Dia kebanggaan Jawa Tengah karena wilayah penyebaran lebih dari 1 kabupaten,” ujar Khairani.

Menurutnya, pamelo muria memiliki keistimewaan yang sulit ditemui pada varietas lain. “Buah tidak berbiji. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menciptakan pamelo tanpa biji,” tutur kelahiran Padang 36 tahun silam itu.

Contohnya nambangan, varietas pamelo asal Magetan, Jawa timur, meski diradiasi agar tak berbiji. Pada pemlo muria, buah tanpa biji bila ditanam pada ketinggian di atas 400 m dpl. Pada ketinggian kurang dari itu buah berbiji 1-2.

Kelezatan pamelo muria mengingatkan Trubus pada varietas unggul nasional pamelo taliwang merah dan taliwang putih asal NTB. Bedanya taliwang berukuran kecil, 0,5-1 kg. (baca : Merah Putih Berkibar di Sabalong Samalewa, Trubus Oktober 2005).

Sedangkan jeruk bali Pati tanpa biji dan ukuran bervariasi, mulai 1 kg hingga 12 kg per buah. Kulit pun tebal, 2 cm sehingga gigitan lalat buah tak menembus daging buah. Pamelo muria memang layak sejajar dengan varietas unggul nasional lain.