Kethoprak


Suasana mendadak agak hening. Terang sorot lampu panggung meredup diganti dengan remang cahaya merah pada background panggung yang bergambar gapura sebuah istana. Lalu terdengar prolog dalam bahasa jawa yang diiringi irama rancak gamelan jawa.Seiring berakhirnya prolog, irama gamelan semakin cepat, dibarengi gelegar petasan dan kembang api. Asap kembang api yang mengepul bercampur dengan kedap-kedip cahaya merah kuning hijau menciptakan suasana panggung yang spektakuler, meski belum menggunakan teknologi tata cahaya laser. Sesaat kemudian muncullah 8 bidadari cantik membawakan tarian yang indah nan gemulai.Itulah gambaran adegan khas saat akan dimulainya sebuah pagelaran kesenian kethoprak sebelum lakon utama dipentaskan.
                             
Kethoprak bakaran, begitulah orang sini menyebutnya adalah sebuah tradisi yang masih  eksis dipertunjukkan. Kesenian leluhur yang masih diuri-uri masyarakat desa Bakaran. Sebuah hiburan rakyat yang masih diidolakan meski harus bersaing dengan pertunjukkan modern serta sinetron-sinetron tv. Penontonnya masih cukup banyak. Pada even-even desa semacam sedekah bumi, sedekah laut atau suronan, kethoprak pasti menjadi salah agenda tetapnya. Selain itu juga masih sering ditanggap pada acara-acara seperti pernikahan,sunatan, atau acara slametan. Beberapa orang juga nanggap ketroprak karena kaul atau nadzar ketika sudah tercapai sebuah hajat dan keinginannya. Selain pentas di daerah sendiri, kethoprak Bakaran ini juga sering ditanggap dari luar daerah. Bahkan boleh dikatakan setiap hari tidak pernah sepi tanggapan, kecuali bulan Suro dan Puasa. Saya tahu persis karena salah satunya yaitu grup ketoprak Siswo Budoyo hampir selalu mengetikkan jadwal pementasan di warnetku. Selain Siswo Budoyo yang bermarkas di desa Bakaran Wetan, ada juga Cahyo Mudo yang bermarkas di desa Bakaran Kulon.

Kesenian kethoprak selain menjadi hiburan rakyat juga bisa berfungsi sebagai media alternatif transfer sejarah serta nilai-nilai luhur tradisi (local wisdom). Babat cerita, legenda kerajaan Majapahit, Mataram, Demak, serta tokoh-tokoh legenda seperti Gajah mada, Ken Arok, Wali Songo, Sunan Kalijaga adalah lakon-lakon yang sering dipentaskan yang mengandung nilai sejarah serta nilai-nilai luhur budaya Jawa. Salah satu lakon yang saya suka adalah Saridin. Seorang tokoh yang unik dan kocak sekaligus bijak dari Pati.Juga tentang legenda Dalang Soponyono, yang bertema sejarah asal mula kota Juwana. Selain menghibur, pagelaran kethoprak juga akan memberikan berkah tersendiri kepada para pedagang kaki lima. Mereka dari siang sudah hiruk pikuk menyiapkan dagangan mereka.

Bukan hanya fragmen dan alur cerita saja yang ditonjolkan dalam pagelaran kethoprak. Dalam adegan perang atau berkelahi kita akan disuguhi gerakan-gerakan akrobatis yang memukau. Gaya tendangan dan pukulan sambil bersalto ria di atas panggung sangat luar biasa lincah diperankan para pemain yang pastinya sudah amat terlatih. Meski adegan ini sangat beresiko dan bisa menimbulkan cedera namun sangat menghibur dan mengundang decak kagum penonton. Juga beberapa kreasi penampilan replika hewan-hewan dan makhluk aneh seperti naga, gajah, macan, angrybird yang unik adalah momen yang ditunggu-tunggu para penonton terutama anak-anak. Humor segar serta tingkah polah para dagelan yang mengundang gelak tawa penonton tak henti-hentinya disisipkan di antara adegan demi adegan.Jika tidak hujan maka para penonton dari mulai anak-anak sampai nenek-nenek akan betah duduk di depan panggung sampai jam 4 pagi. Saat pertunjukkan akan berakhir. Bahkan beberapa hari setelahnya mereka masih saja memperbincangkannya.