Kisah Kerajaan Pesantenan, “ Bumi Pati Yang Sirna”



Kisah Pesantenan, Oleh : Azis Nasa

Seiring dengan berakhirnya perang Bharatayudha di India pada abd ke berapa,maka terjadilah pelarian – pelarian dari para pertapa, Brahmana, Resi ataupun Wiku ke segala penjuru dunia. Tanah Jawa adalah salah satu sasaran utama tempat menyelamatkan diri dari gejolak politik pada waktu itu. Tanah Jawa yang terkenal sebagai Bumi Swargaloka atau Syurga yang ada di Bumi adalah tempat yang indah dan mempunyai daya magis sangat tinggi. Beberapa Murid dari Panembahan Ismaya/Semar pun ikut dalam rombongan orang – orang yang mengasingkan diri ke Jawa.

Setibanya di tanah Jawa, berpencaranlah murid – murid dari Panembahan Ismaya/Semar. Dari beberapa orang murid, mendapati sebuah gunung yang elok, yang pernah meletus hebat pada abad ke 1 Masehi yaitu Gunung Muria. Di situ mereka melihat cahaya yang berbinar dari butiran air yang jatuh ke bumi. Maka ditujulah tempat itu, dan salah seorang murid panembahan Ismaya/Semar membuat padepokan di daerah tersebut. Tempat air terjun yang butiran airnya berbinar bagaikan mutiara itu diberi nama COYO MANIK/ BUTIRAN YANG BERCAHAYA. Murid dari Panembahan Ismaya/Semar menganggap Gunung Muria adalah sebuah Gunung yang aneh, karena di puncak gunung tersebut terdapat banyak sekali Pohon Kelapa, yang seharusnya ada di pantai.Untuk menghormati gurunya, padepokan yang dia dirikan tersebut diberi nama SEMAR ( sekarang jadi nama desa di lereng Muria ) .Beberapa murid yang lain ada yang naik lagi ke puncak gunung. Dan mendirikan sanggar pemujaan di beberapa puncak Gunung Muria. Terkenal dengan nama Candi Angin Lor dan Candi Angin Kidul. Juga ada Watu Payon, watu yang berbentuk seperti kura – kura dengan diameter kurang lebih 1,5 meter yang di bawahnya terdapat gambar alat kelamin pria yang melintang ( sebuah symbol dari Lingga Yoni ) yang terdapat pada Puncak Tromulus /salah satu puncak di gunung Muria. Salah satu murid dari Panembahan Ismaya/Semar yang berada di daerah Coyo Manik kemudian berkeluarga, dan mempunyai anak laki – laki yang sangat tampan dan diberinya nama Akhsayapatra.

Akhsayapatra sendiri adalah sebuah nama dari Tempurung Kelapa Ajaib yang diberikan oleh Bathara Surya kepada Prabu Yudhistira ( lihat di kisah Mahabharata ). Dimana kalau ada makanan yang diwadahi tempurung tersebut tidak akan pernah habis , walau dimakan orang sebanyak berapapun. 

Ketika Akhsayapatra menginjak dewasa, dia diperintahkan oleh orangtuanya untuk mencari tempat tersendiri untuk mengembangkan keturunannya. Akhsayapatra berjalan turun ke arah selatan dan didapati sebuah tempat seperti hutan kecil yang terlihat sangat terang benderang dan bercahaya ( dalam bahasa Jawa NGEGLO /Jelas/Cetho). Akhsayapatra berhenti di tempat tersebut dan mendirikan sebuah pondok. Dan dia mendapati pula sebuah keluarga Jawa yang mendiami area dekat hutan yang bercahaya tersebut. Di keluarga tersebut mempunyai anak perempuan yang bernama Wandhan Sari. Maka Akhsayapatra pun tertarik oleh Wandhan Sari, dan akhirnya mereka menikah. Hutan dimana Akhsayapatra dan Wandhan Sari berkeluarga sekarang disebut NGAGUL (dari kata NGEGLO/ terlihat jelas ).

Akhsayapatra mendirikan sebuah kerajaan kecil di tempat tersebut dan diberi nama kerajaan PESANTENAN, yang diambil dari kata SANTEN yang berarti air perasan parutan kelapa. PESANTENAN sendiri berarti tempat pembuatan Santen yang juga berkaitan dengan nama Akhsayapatra sendiri yang berarti Tempurung Kelapa Ajaib.

Bukti sejarah bahwasannya kerajaan Pesantenan berlokasi di Ngagul antara lain adalah nama – nama tempat di sekitar NGAGUL yaitu : TAMAN SARI / sebuah tempat yang berarti Taman Kerajaan Yang Indah. PURI tempat beristirahatnya keluarga RAJA, dan tumpukan batu bata raksasa yang didapati saat pembuatan pondasi pembangunan Pabrik Es Batu di Ngagul. Candi di Jawa bagian utara tidak ada yang memakai batu andesit, karena jauh dari sungai yang berbatu – batu.

Wangsa Akhsayapatra sendiri sejaman dengan Kerajaan Kalingga di Jepara. Namun karena adanya pagebluk pada masa itu, mengakibatkan semua keturunan Wangsa Akhsayapatra wafat. Dan jenazahnya diperabukan dan dilarung di Begawan Silugonggo Juana. Sebuah akhir yang tragis dari Wangsa Akhsayapatra. Sehingga Kerajaan Pesantenan hilang dari muka bumi pada sekitar abad ke 7 Masehi…….
Demikian sekelumit cerita tentang Kerajaan Pesantenan yang berhasil saya dapat dari hasil kontemplasi ghaib dengan dunia lain. 
Percoyo elah ora yo elah.... hahahaha


Di ambil dari catatan fesbuk Aziz Nasa yang di aplut 1 Maret '14 pukul 19.37 wib.