Ketika Film tentang Korupsi di Desa Menyabet Penghargaan pada Festival Film Pelajar Nasional


Pegiat sineas pelajar dari SMKN 2 Pati kembali mengukir prestasi di ajang perlombaan film pendek tingkat nasional. Mereka menyabet sejumlah penghargaan di festival film di Jakarta dan Surabaya beberapa waktu lalu.

Film pendek berdurasi 15 menit berjudul Pitulasan mendapatkan dua penghargaan dalam kategori sutradara terbaik dan penata artistik terbaik pada Festival Film Surabaya.

Sedangkan karya anak SMKN 2 Pati lain, film yang berjudul Samudro, mendapatkan tiga penghargaan dengan kategori penata artistik terbaik, aktor terbaik dan favorit juri dalam Festival Film Pelajar Batavia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kepala Sekolah SMKN 2 Pati, Pramuhadi Kuswanto menyatakan siswanya sudah menciptakan banyak film pendek. Namun untuk kali ini, dua film telah mendapatkan penghargaan di Jakarta dan Surabaya.

"Pada film siswa kami, memang ditekankan mengedepankan budaya, khususnya budaya lokal Pati. Harapannya, budaya lokal Pati dikenal oleh seluruh Indonesia," kata Pramuhadi, Selasa (10/5/2016).

Ia bangga anak didiknya bisa menorehkan prestasi, meskipun program studi multimedia di sekolah tersebut baru meluluskan dua angkatan. Bidang film pelajar ini, kata dia, yang membuat Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mendatangi sekolah karena tertarik dengan produk film SMKN 2 Pati.

Sejumlah prestasi telah disabet sekolah ini dalam bidang film pendek pelajar. Diantaranya juara pada festival film pelajar yang diadakan Hatta Rajasa, festival film pelajar Jogja, juara dua pada festival film pelajar di Universitas Negeri Jakarta dan sejumlah festival film pelajar lain.

"Target kami tiap tahun mengikuti festival film pelajar dan juara. Kendala kami saat ini karena tidak ada jurusan broadcasting di sekolah sehingga harus melatih akting pemain film terlebih dahulu," kata Ketua Program Studi Multimedia SMKN 2 Pati, Purwanto.

Film berjudul Pitulasan menceritakan satu desa yang akan memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan menyelenggarakan tumpengan dan berbagai lomba.

Dalam film ini, ada unsur satire tentang korupsi yang merajalela hingga tingkat desa. Sekretaris desa yang akrab disapa Pak Carik diminta kepala desa setempat untuk meminta sumbangan kepada warga sebesar Rp 20 ribu terkait acara Pitulasan di desa.

Namun, Pak Carik menyuruh bawahannya untuk meminta sumbangan ke warga sebesar Rp 50 ribu. Aksi Pak Carik tersebut pun diketahui kepala desa dan meminta sisanya untuk dikembalikan kepada warga.

Sedangkan Film Samudro bercerita tentang seorang anak yang disuruh mencari potensi dan kelebihan bangsa Indonesia dibandingkan bangsa lain oleh ayahnya.

Kemudian sang anak, menunjukan Borobudur, dan beberapa kelebihan lain Indonesia yang berwujud benda. Sang ayah pun mengatakan potensi dan kelebihan milik Indonesia bukan hanya berwujud benda, namun juga nonbenda. Misalnya keramahtamahan, gotongroyong, dan kesederhanaan orang Indonesia.

Film bercerita tentang Tanah Air ini pun diharapkan menggugah masyarakat tentang betapa indahnya dan seharusnya bangga menjadi Indonesia.