Kelapa Kopyor Pati Semakin Mendunia

Kelapa kopyor tipe genjah asal Pati diprediksi akan semakin mendunia, pasalnya kualitas buah yang dihasilkan dari Kabupaten Pati merupakan yang terbaik di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, DR. Witjaksana Darmosarkoro, pada acara Penandatanganan Kerja Sama Pengadaan Kelapa Kopyor Antara PPKS Medan dengan Kelompok Tani “Sarono Makmur” Desa Sambiroto Kecamatan Tayu, Selasa (22/5), di Ruang Pragolo Setda Kabupaten Pati. Pria yang akrab disapa Witjak ini mengakui, setelah pihaknya melakukan penelitian di daerah lain, ternyata kelapa kopyor dari Kabupaten Pati menjadi yang terbaik diantara yang lain. Kelapa Kopyor Genjah Pati dikenal cepat berbuah dan memiliki persentasi buah kopyor yang tinggi sehingga peluang pengembangan ke depan akan cenderung menggunakan jenis kelapa kopyor jenis  ini. Selain itu harga jual kelapa kopyor genjah juga amat menjanjikan. Harga dari petani per buahnya Rp 10 ribu untuk ukuran kecil, dan untuk ukuran paling besar pada bulan Ramadhan harganya bisa mencapai Rp 40 ribu.Witjak bahkan berjanji untuk membukakan jalur ekspor langsung ke Singapura sehingga harapannya ke depan, Kelapa Kopyor Indonesia khususnya Pati mampu menguasai pasar dunia. Atas dasar itulah PPKS bersedia untuk melakukan kerjasama dalam pengadaan kelapa kopyor. Witjak bahkan berjanji untuk membukakan jalur ekspor langsung ke Singapura sehingga harapannya ke depan, Kelapa Kopyor Indonesia khususnya Pati mampu menguasai pasar dunia. Atas dasar itulah PPKS bersedia untuk melakukan kerjasama dalam pengadaan kelapa kopyor. Witjak bahkan berjanji untuk membukakan jalur ekspor langsung ke Singapura sehingga harapannya ke depan, Kelapa Kopyor Indonesia khususnya Pati mampu menguasai pasar dunia. Atas dasar itulah PPKS bersedia untuk melakukan kerjasama dalam pengadaan kelapa kopyor.

Penandatanganan perjanjian kerjasama dilakukan antara DR Witjaksana Darmosarkoro selaku Direktur PPKS Medan dengan Maghfuri selaku Ketua Kelompok Tani “Sarono Makmur” Desa Sambiroto Kecamatan Tayu dan Pudjo Winarno, selaku Plt Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pati. Proses penandatanganan itu juga disaksikan oleh Pj Bupati Pati, Indra Surya yang memang menjadi pemrakarsa kerjasama dengan pihak PPKS Medan. “Kini masyarakat Pati harus bangga dengan kelapa kopyornya yang mendunia dan petani pun kami harapkan semakin sejahtera”, tutur Indra Surya.

Dalam sambutannya, Witjak juga mengungkapkan bahwa kekurangtahuan masyarakat tentang kelapa kopyor, mengakibatkan upaya pengembangannya jarang dilakukan oleh masyarakat. Kebanyakan kelapa kopyor di daerah lain, menurutnya, adalah jenis kelapa dalam. Jenis kelapa ini diakuinya bisa mencapai umur ratusan tahun, berbuah lebat, ukuran buahnya besar-besar, namun baru bisa mulai berbuah pada umur 8 sampai 10 tahun. Namun jenis kopyor genjah yang banyak dijumpai di Pati, menurut Witjak, berbuah lebat dalam tiap tandannya dan bisa mulai berbuah pada umur 4 sampai 5 tahun. Prosentase kopyor dalam tiap tandan kelapa genjah juga di atas 50%. Karenanya, benih kelapa kopyor genjah menjadi alternatif menarik untuk dikembangkan.

Keinginan PPKS untuk mengoptimalkan produktivitas kelapa kopyor itu, lanjut Witjak, juga dilatarbelakangi oleh kebiasaan masyarakat yang lebih banyak menanam kelapa kopyor dari buah kelapa biasa yang berada dalam tandan kelapa kopyor. Sebab menurutnya kelapa kopyor tidak pernah menghasilkan buah yang 100% kopyor dalam tiap tandannya. “Selalu ada kelapa yang normal. Kelapa normal yang berada dalam satu tandan bersama kelapa kopyor inilah yang biasa dijadikan benih kebun kelapa kopyor”, imbuhnya. Namun menurutnya, benih dari kelapa normal dalam tandan kopyor ini, bisa saja berpeluang untuk menghasilkan kelapa biasa. “Peluang untuk menjadi kelapa kopyor atau biasa setara dengan prosentase jumlah kelapa biasa dan kopyor dalam tandan tersebut”, jelas Witjak.

Cara pengembangbiakan yang biasa dilakukan masyarakat ini dianggap belum optimal oleh PPKS, karena itu pihaknya berniat untuk meningkatkan produktivitas kelapa kopyor di Kabupaten Pati dengan mengembangkan benih melalui kultur embrio. Untuk mendukung rencana itu, PPKS tiap bulannya akan membeli kelapa kopyor sebanyak 1200 buah dengan harga Rp 18 ribu per butir. Buah kelapa kopyor yang sebenarnya layak untuk dikonsumsi ini, menurut Witjak, akan diambil embrionya.

“Embrio kelapa (kenthos) berupa butiran kecil agak memanjang berwarna putih dengan ukuran 1 sd. 1,5 mm”, jelas Direktur PPKS Medan ini. Dalam tiap butir kelapa, lanjut Witjak, sebenarnya ada tiga calon embrio. “Letak embrio ini ada pada ujung (bagian atas yang bertangkai) pada tiap butir kelapa”, lanjutnya. Dari tiga calon embrio ini, menurutnya, umumnya hanya satu yang benar-benar jadi embrio.

“Penumbuhan embrio kelapa kopyor hanya bisa dilakukan dalam laboratorium dengan teknologi embrio kultur”, tutur Witjak. Hasil benih dari laboratorium  ini, lanjutnya, sudah berupa kecambah kelapa berukuran mikro, dengan panjang hanya sekitar 5 cm. “Benih ini selanjutnya masih perlu dibesarkan dan diaklimatisasi dalam lab, kemudian di luar lab, agar siap untuk ditanam di lapangan berupa benih ukuran 0,5 m”, tuturnya panjang lebar.

Kelebihan benih dari hasil kultur embrio ini, imbuh Witjak,  peluang untuk menjadi pohon kelapa kopyornya mencapai 99%. “Artinya, bisa dipastikan benih dari kultur embrio akan menghasilkan individu pohon yang pasti berbuah kelapa kopyor”, tegasnya. Prosentase buah kopyor dari tiap tandan benih kultur embrio, menurutnya juga di atas 50%.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Pudjo Winarno, kelapa genjah kopyor Pati berkembang sejak lebih dari 50 tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa tanaman yang berumur lebih dari 40 tahun. Selain itu, beberapa pedagang pengumpul telah memulai usahanya mengirim kelapa kopyor ke Surabaya sejak tahun 1960-an sebagai bahan baku es krim.

Sementara itu, menurut Maghfuri, Ketua Kelompok Tani “Sarono Makmur” yang juga turut menandatangani perjanjian kerjasama, mengatakan bahwa berdasarkan keterangan penduduk setempat, pada awalnya kelapa kopyor Pati dikembangkan oleh para tokoh agama, yang kemudian bibitnya dijadikan buah tangan bagi tamu yang berkunjung ke tempat mereka. Bibit kelapa kopyor milik para tokoh agama tersebut tidak diketahui persis asal-usulnya. Kemungkinan merupakan hasil mutasi alami dari pertanaman yang ada di daerah Pati atau berasal dari luar Pati. Yang pasti, imbuh Maghfuri, sejak tahun 1960-an kelapa kopyor sudah ada di Pati dan dikembangkan penduduk di pekarangan dengan menggunakan benih dari tanaman kelapa genjah yang menghasilkan buah kopyor. Hingga saat ini, jelas Magfuri, kelapa kopyor hampir ada di semua pekarangan dan kebun sekitar rumah penduduk di beberapa kecamatan di Kabupaten Pati.

Hingga kini menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, luas tanam kelapa kopyor di Kabupaten Pati mencapai 378,09 ha. Tiga kecamatan yang memiliki areal per tanaman terluas yaitu Dukuhseti, Tayu, dan Margoyoso, dengan luas berturut-turut 132,60 ha,  131,55 ha, dan 69,50 ha.
Populasi kelapa genjah kopyor Pati, menurut Pudjo Winarno, memiliki enam variasi warna buah, yaitu hijau, hijau kecoklatan, coklat, coklat kehijauan, kuning, dan oranye (gading), namun yang paling dominan adalah yang berwarna hijau, kuning, dan coklat. Ketiga varietas kelapa genjah kopyor tersebut menurut Pudjo telah dilepas Menteri Pertanian pada 29 Desember 2010 sebagai varietas unggul dengan nama Kelapa Genjah Coklat Kopyor, Kelapa Genjah Hijau Kopyor, dan Kelapa Genjah Kuning Kopyor.

Pengakuan itu menurut Pudjo dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) No. 3995/KPTR/SR/120/12/2010 yang siap dilepas untuk kelapa genjah varietas genjah cokelat kopyor. Berikutnya varietas genjah hijau kopyor dengan sertifikat No. 3936/KPTR/SR/120/12/2010, sedangkan genjah kuning kopyor sertifikat No. 3997/KPTR/SR/120/12/2010. “Dengan SK ini maka kelapa kopyor menjadi hak milik kekayaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati”, tegas Pudjo.

Ia juga menambahkan bahwa dengan adanya SK Menteri Pertanian itu, otomatis Kabupaten Pati sudah memiliki kekuatan hukum yang pasti, artinya semisal ada daerah bahkan negara lain yang mengklaim kelapa genjah kopyor ini komoditi unggulannya, Pemkab Pati dapat menuntut hal itu. “Jadi kini kekuatan kita terkait dengan hak kelapa genjah kopyor ini sangat kuat dan legal”, ungkapnya. Karena itu, lanjut Pudjo, kini diperlukan pengawasan yang benar-benar intensif agar hak kekayaan lokal yang sudah mendapat pengakuan secara nasional itu tidak dinikmati pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

Terkait dengan pernyataan Pudjo, Witjak meyakinkan bahwa pihaknya tidak hanya sekedar mengambil manfaat dari embrio kelapa kopyor genjah, namun pihaknya juga berjanji untuk secara terus-menerus dan kontinyu memberikan perhatian pada para petani melalui pembinaan rutin dari pihaknya. “Toh hasil dari kultur embrio ini pada akhirnya juga akan kembali ke Pati dan dapat dikembangkan juga secara luas oleh para petani sehingga produktifitas mereka semakin meningkat”, ujarnya

Dalam hal pengembangan dan penelitian, menurut Pudjo sebenarnya telah banyak instansi yang melakukan penelitian kelapa kopyor di Pati antara lain UPN Surabaya, IPB, dan Balitka Manado. Tahun 2012 ini kita mencoba untuk kerjasama dengan PPKS Medan melalui perjanjian kerjasama yang kita tanda tangani tadi.