Sajikan Tontonan Sekaligus Tuntunan Dengan Media Wayang

 

Media wayang yang juga kesenian tradisional, dalam sejarah Walisongo juga disebut-sebut sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam. Namun, di era modern ini, kesenian tersebut masih menarik jika dimainkan untuk berdakwah.

Seperti yang dilakukan Maulidya Hifdatun Rifsanjani ini. Ia menggunakan wayang untuk syiar. Perempuan asal Desa Guyangan, Kecamatan Tayu ini mengaku suka wayang sejak kecil.

“Saya menggunakan media wayang untuk mengajak masyarakat mendengarkan syiarnya. Itulah yang membuat saya tidak ragu untuk ikut mempelajarinya,” ungkap perempuan yang karib disapa Neng Uli ini.

Ia menjelaskan, kegiatan dakwah menggunakan wayang, merupakan upaya untuk memberikan tontonan sekaligus tuntunan. Konsep itu, sudah dilaksanakan saat zaman Wali di Tanah Jawa. Ternyata sampai saat ini masih menarik dan banyak yang berminat. Tinggal cara pengemasannya. Agar yang mendengarkan tidak bosan.

“Saya hanya bagian yang ingin mencari berkah dari cara pendahulu. Tidak ada keinginan lain, kecuali mencari barokah dari para ulama maupun wali pendahulu,” jelas Neng Uli.

Perempuan yang pandai berdakwah ini, merupakan putri pertama dari Sutrisno. Dari pengakuan keluarganya, Neng Uli giat melakukan pidato sejak usia sepuluh tahun. Bakat tersebut mendapat dukungan penuh dari semua kalangan, karena dinilai positif.

“Kalau sebelumnya itu, ada acara di salah satu stasion radio yang menyediakan acara perlombaan dakwah. Metode pewayangan saya pilih, dan akhirnya membuat saya kerap kali memenangkan lomba tersebut. Tidak hanya di tingkat Kabupaten tapi juga di tingkat Provinsi juga,” terangnya.

Sebelum di dunia syiar agama, Neng Uli pada usia TK sudah sering tampil di atas panggung. Hanya, penampilanya waktu itu bukan untuk berpidato, melainkan untuk bernyanyi. Karena dianggap punya keberanian tampil dihadapan orang banyak, maka orangtuanya mengarahkan ke dunia dakwah.

“Karena saya juga awalnya bisa nyanyi, maka untuk nyinden lagu-lagu Jawa tidak sulit bagi saya. Saya juga mulai belajar dengan memeragakan tokoh wayang,” terangnya.

Menurut Neng Uli, berdakwah menggunakan wayang perlu dilestarikan. Karena, itu juga warisan budaya dan metode-metode tradisional yang pernah digunakan para pendahulu.

“Menggunakan wayang supaya lebih menarik dan juga dalam rangka nguri-uri kebudayaan wayang. Karena jarang sekali kan ada perempuan bermain wayang, meski tidak secara khusus mendalang, saya juga sedikit banyak faham mengenai kisah di pewayangan,” terangnya.