Miniatur Perahu Pinisi Buatan Warga Blaru Pati Banyak Diminati Pembeli dari Luar Jawa


Teguh Kusmanto (42) Warga Blaru RT 19 RW 5, Kecamatan Pati Kota,  sudah lama bergelut dengan kreativitas membuat miniatur perahu pinisi dari bambu. Potongan-potongan bambu jenis apus berhasil disulap menjadi karya seni dengan nilai ekonomi yang tinggi.

Dalam sebulan, Teguh mengaku sanggup menyelesaikan empat sampai lima buah miniatur kapal pinisi. Bambu yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran dan kebutuhan, dirangkai membentuk kapal tradisional yang cantik.

Tak sekadar dipotong, potongan-potongan bambu dilakukan proses penghalusan hingga serat-serat yang tajam hilang. Terakhir, finishing dilakukan menggunakan pelitur beragam warna. Ada yang coklat bening, agak gelap, hingga terang.

Teguh mengaku, inspirasi membuat kapal pinisi berawal dari profesinya sepuluh tahun silam saat bekerja di pelayaran. “Kondisi fisik sepertinya tidak bisa diajak lagi untuk berlayar. Saya akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menekuni dalam pembuatan miniatur kapal pinisi,” ujar Teguh.

Satu kapal ukuran kecil dijual sekitar Rp 120 ribu, ukuran sedang Rp 800 ribu, dan ukuran paling besar sekitar Rp 1,2 juta. Pembeli juga bisa memesan ukuran tertentu menyesuaikan harga dan keinginan.

Miniatur ukuran kecil memakan waktu tiga hari, ukuran sedang bisa diselesaikan dalam waktu seminggu, sedangkan miniatur ukuran besar bisa memakan waktu selama 20 hari. Ketelitian, kecermatan, dan kreativitas dibutuhkan dalam merangkai potongan-potongan bambu menjadi sebuah miniatur cantik.

Perahu pinisi dianggap memiliki nilai seni yang tinggi, karena bentuknya yang klasik dan tradisional. Kendati miniatur, tetapi hasilnya mirip dengan kapal pinisi sesungguhnya. Tali, layar, bendera, ruang penumpang dan nahkoda, hingga baling-baling kapal tampak jelas dalam miniatur tersebut.

Miniatur perahu pinisi buatan Teguh Kusmanto ini ternyata diminati pembeli dari luar Pulau Jawa. Mereka berasal dari daerah Riau, Samarinda, Balikpapan, Pekanbaru, hingga Nias.

Di luar kota, pembeli yang memesan berasal dari sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Di Pati sendiri, sebagian besar pemesan diakui berasal dari Kecamatan Juwana seperti Raci, Ngerang, dan lain sebagainya.

Teguh mengatakan, pemesanan di daerah Pati dan sekitarnya akan diantar ke rumah. Untuk pemesan luar kota dan luar Jawa akan dipaketkan. “Selama ini, belum ada pemesan dari luar negeri. Kami berharap besar agar ke depan bisa ekspansi ke luar negari,” ungkap Teguh.

Puncak pemesanan diakui Teguh pada saat Lebaran tak lama ini. Selama Lebaran tersebut, Teguh berhasil menjual sekitar 20 miniatur kapal dari berbagai ukuran. Tak ayal, Teguh berhasil meraup untung jutaan rupiah dari hasil karya seninya tersebut.

Namun begitu, sebuah usaha tidak lepas dari kendala. Selama ini, sejumlah kendala yang dihadapi, antara lain masih minimnya pemesan, modal, dan tenaga kerja. Sebab, pengerjaan miniatur selama ini dikerjakan secara sendirian.

Rencananya, Teguh akan merekrut tenaga kerja dari tetangganya sendiri untuk mengatasi kendala tersebut. “Penghasilannya lumayan. Sebulan, kita bisa menjual tiga sampai lima buah miniatur dengan harga terkecil Rp 120 ribu sampai Rp 1,2 juta,” ucap Teguh.