Mbah Minto, Sosok Rendah Hati Penemu Cabai Malehnong


Berawal dari keprihatinan murahnya harga cabai ketika masa penen dari petani, Mbah Minto warga Desa Winog Kecamatan Pati, berinisiatif mencari solusi, dari penelitian yang dimuali tahun 2008 itu, Mbah Minto menemukan varietas cabai malehnong (malih ning Winong/berubah di Desa Winong).

Cabai dengan keunggulan buah lembat bergerombol menyerupai bunga itu diwali dari batang bawah yang berusia 4-5 tahun dari pohon cabai hitam. Mengaplikasikan kawin silang dengan metode konvensional (biasa),  pria yang kental dengan sifat rendah hati tersebut, berhasil membawa cabai malehnong ke pameran luar kota dan diminati banyak pengunjung.

“Dari tahun 2008 dan landing itu sekitar tahun 2013-2014, kemudian seperti ini lahirnya. Saya sudah berusaha ikut pameran yang berkali-kali, malahan peminatnya banyak yang dari luar kota. Namun untuk di daerah kita sendiri baru diadakan ini,” terangnya dengan dialeg khas Pati.

Dari menyiapkan media hingga proses panen, Mbah Minto sengaja menghindari bahan kimia, termasuk penerapan bahan alami pengendali hama, hanya menggunakan daun sirsak dan daun mahoni. Menurutnya, hal terpenting menjaga tanaman dari serangan hama adalah dari manusia sendiri yang menamannya.

Perlakuan terhadap cabai malehnong betul-betul diperhatikan dalam budidayanya. Mulai dari tidak menyakiti bibit, memanen muda ketika terserang hama hingga pemidahan bibit ke media yang baru.

“Saya hanya menggunakan daun sirsat dan mahoni. Untuk pengendalian hama. Itu pun hanya pengendalian. Artinya cabai ini secara khusus dan umum belum menderita sakit, karena dari awal sampai akhir kita jaga,” imbuhnya.

Disinggung cabai malehnong untuk ditanam masal seperti menggunakan media lahan tanam langsung di tanah seperti petani. Mbah Minto menuturkan belum bisa diajurkan, pasalnya buah dari cabai sudah bergerombol, tentu tidak memerlukan lahan luas untuk memanen dalan jumlah banyak. Disamping itu, menanam di polibag terkandung magsut memanfaatkan pekarangan rumah.

Selain tidak membutuhkan sewa lahan, memanfaatkan pekarangan rumah juga memerkecil resiko selama perjanan jika ditanam di lahan seperti sawah atau kebun.

Mbah Minto juga tidak berfikir untuk mematenkan hasil temuanya kepada dinas yang membidangi.

“Sementara saya tidak memikirkan kesana, mas. Sudah senja gini, tinggal  menunggu besuk sore ibaratnya. Yang penting bermanfaat untuk masyarakat itu lho, mas. Bahkan nama saya dicangking-cangking males kok, mas. Itu hanya kepentingan duniawi. Pakai nama lombok rawit itu aja,” pungkasnya.