Kesenian “Gong Cik” Ramaikan Ritual Adat Sedekah Bumi di Desa Lahar Pati

Kesenian Lokal “Gong Cik” 
Berbicara mengenai budaya di Kabupaten Pati memang tidak ada habisnya. Salah satunya adalah tradisi sedekah bumi. Hampir seluruh Desa di Kabupaten Pati melaksanakan kegiatan tahunan tersebut. Begitu juga dengan masyarakat Desa Lahar Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati, yang tak lain juga menyelenggarakan sedekah bumi sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Namun sebagian orang yang rasional tradisi seperti ini masih dikaitkan dengan mitos, hal yang berbau mistis karena juga bersinggungan dengan alam gaib.

Masyarakat Desa Lahar melaksanakan Sedekah Bumi setiap tahunnya pada hari Kamis Pahing di bulan Apit (Dzulqo’dah), yang pada kali ini tepat pada hari Kamis (10/8). Sedekah bumi adalah bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah memberikah hasil bumi yang cukup melimpah sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Prosesi sedekah bumi desa Lahar dilaksanakan mulai pukul 12.00 WIB, yaitu arak-arakan dari rumah Kepala Desa menuju “Punden” atau peninggalan Leluhur yang orang sekitar menyebutnya “Danyang”.

Dalam acara tersebut Kepela Desa beserta para perangkat desa memakai pakaian adat dan di iringi Kesenian terbang, gongcik dan juga dalang beserta sinden.

Ritual Adat Mengelilingi Punden


Prosesi Upacara Adat Mengelilingi Punden 
Sesampai di Punden, Kepala Desa beserta staf melakukan ritual adat yaitu mengelilingi punden. Setelah ritual selesai dilanjutkan dengan do’a atau bancakan. Dalam panjatan do’a, sesepuh bersyukur atas limpahan karunia dari sang Pencipta dan memohon agar masyarakat Desa Lahar diberi kedamaian serta kesejahteraan. Setelah selesai memanjatkan do’a, puluhan warga dari berbagai daerah berebut nasi yang di bungkus anyaman bambu yang masyarakat sekitar menyebutnya “Tlandik/kreneng”.

Nasi yang diperoleh dari tradisi sedekah bumi di percaya mempunyai daya magic tersendiri dalam berbagai hal. Seperti yang diutarakan salah satu warga dari kecamatan Juwana yang turut berebut “Tlandik”.

“Nasi (Berkat) dari acara sedekah bumi ini saya jual lagi mas nantinya. Bisa mencapai Rp.30.000 per tlandik. Bukan untuk dimakan, tetapi nasi dikeringkan dan nantinya di sebar di laut untuk mencari ikan. Kami percaya hasil tangkapan akan semakin banyak. Selain itu juga bisa di sebar di tambak atau sawah”. Tutur salah satu perebut tlandik yang enggan menyebutkan namanya.

Setelah acara bancakan selesai, kemudian dilanjutkan oleh pagelaran wayang di area punden dengan durasi 15 menit. Setelah itu di lanjut pertunjukan dari kesenian gong cik dari para jawara Desa Lahar.

“Gong Cik”, kesenian tradisional yang hampir punah

Kesenian khas warisan leluhur di tanah Pati ini memanang sudah tidak eksis lagi di era global. Gong Cik bersal dari kata “Gong” yaitu alat musik tradisional (Gong), sedangkan “Cik” berasal dari kata pencik / mencik (pencak). Gong Cik adalah seni tari bela diri, yang keberadaannya semakin Langka.

Dalam acara sedekah bumi di Desa Lahar, Gong Cik ikut andil dalam upacara adat. Sebagai mana yang telah di kemukakan oleh Kepala Desa Lahar H. Setiawan Budhiaji, SE bahwa Kesenian Gong Cik di Lahar akan di hidupkan kembali.

“Gong Cik akan kami coba hidupkan kembali karena sejak jaman dahulu memang banyak pendekar di Desa Lahar ini”, ujarnya usai prosesi upacara adat sedekah bumi kepada fokuspati.com.

Para penabuh alat serta para pesilat memang di dominasi kalangan lanjut usia karena kaum muda cenderung kurang tertarik dengan kesenian tersebut.