Gedung Papak, Saksi Bisu Kisah Jugun Lanfu di Grobogan

Gedung Papak
Penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia memang sudah berakhir.

Meski demikian, noda hitam yang ditorehkan penjajah tak lenyap begitu saja dalam memori rakyat Indonesia.

Selama 3,5 tahun Indonesia dijajah Jepang, sedangkan pendudukan Belanda di Indonesia lebih lama lagi, yakni 350 tahun.

Kekejaman penjajah pada masa sebelum kemerdekaan RI itu meninggalkan jejak-jejak luka masa lalu.

Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan tua yang disebut menyimpan sejarah kelam kebrutalan tentara Belanda dan tentara Jepang.

" Gedung Papak", begitu warga setempat menyebut rumah kuno seluas 338,5 meter persegi tersebut.

Dinamai "papak" karena atapnya datar tak bergenting. Gedung Papak berdiri di atas lahan Perhutani KPH Gundih di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Grobogan.

Lokasinya di tengah perkampungan yang tak jauh dari KPH Gundih. Bangunan megah dengan arsitektur khas Belanda tempo dulu itu tak terawat kendati tercatat sebagai bangunan cagar budaya.

Gumpalan debu kotor menempel di mana-mana hingga sarang laba-laba pun menggantung tak beraturan di banyak sudut ruangan.

Ada delapan ruangan kamar yang luas. Empat ruang di lantai bawah dan empat ruang di lantai atas.

Setiap pintu masuk berukuran tiga meter tak selazimnya bangunan rumah pada umumnya.

Lantai beralaskan plester menyerupai semen. Ada juga kamar mandi dengan bak kecil serta dapur yang dilengkapi kompor tanam berupa tungku.

Untuk menuju lantai kedua dari lantai pertama, ada tangga usang terbuat dari kayu dengan anak tangga selebar setengah meter.

Beberapa ranjang besi berkelambu tanpa kasur juga dibiarkan tergeletak di kamar. Tak ada hiasan yang menempel di dinding. Hanya keheningan yang memancar dari baliknya. 

Kamar di gedung papak yang dipakai tentara Jepang melmuaskan hasrat seksual dengan gadis pribumi
Kesan angker kental terasa saat memasuki Gedung Papak. Entah terbawa suasana karena sudah lama tak berpenghuni atau terbayang sisa-sisa kisah tragisnya.

Bagian dalam bangunan lawas yang berkonstruksi dinding serta kayu itu begitu kotor, sunyi, dan gelap.

Penjaga Gedung Papak pun sengaja membuka sejumlah jendela di rumah klasik itu untuk mempersilakan cahaya dan udara segar menyusup.

Meski tak terurus, bangunan masih terlihat kokoh dan tak meninggalkan unsur keasliannya. Gedung Papak menjadi salah satu bukti adanya praktik perbudakan seks yang dilakukan kolonialisme Jepang.

Jejak " jugun ianfu"

Pada masa pendudukan Jepang, istilah "jugun ianfu" sangat terkenal di telinga beberapa kalangan, terutama para gadis-gadis asli Indonesia waktu itu.

Jugun Ianfu dijabarkan sebagai tawanan budak seks bagi para tentara Jepang. Istilah yang digunakan kolonialisme Jepang saat Perang Dunia II untuk menyebut para wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu pasukannya.

Siapa sangka Gedung Papak dahulunya adalah rumah bordil yang dihuni para tawanan yaitu gadis-gadis belia yang merupakan warga asli Kabupaten Grobogan.

Para bunga desa yang malang itu dipaksa untuk memuaskan hasrat seksual tentara Jepang kala itu.

"Kebanyakan wanita yang menjadi korban kekerasan seksual tentara Jepang malu dan menghilang. Ada seorang nenek saksi bisu yang menjadi korban budak seksual tentara Jepang. Setahun sekali ia datang diantar keluarganya ke Gedung Papak. Namanya Sri Sukanti," tutur Sokiran (60), penjaga Gedung Papak.

Menurut Sokiran, nenek itu kerap menangis dan marah ketika datang ke Gedung Papak. Nenek itu kemudian menceritakan sejarah kelam gedung tersebut.
"Di kamar di Gedung Papak, ia dan gadis lain yang diculik digilir paksa jadi tawanan budak seks tentara Jepang," kata Sokiran.

Administratur Perum Perhutani KPH Gundih Divisi Regional Jateng Sudaryana menyampaikan, Gedung Papak dibangun tahun 1919 sebagai markas besar tentara Belanda.

Gedung tersebut juga difungsikan sebagai tempat penyiksaan pribumi yang dianggap membangkang aturan pasukan Belanda kala itu.

"Hingga akhirnya Gedung Papak dikuasai tentara Jepang. Pada masa itulah Gedung Papak dijadikan rumah bordir yang diisi jugun ianfu atau gadis-gadis pribumi yang dijadikan tawanan budak seks tentara jepang. Mereka digilir saat usia masih belia. Ibu Sri Sukanti adalah saksi bisu kekejaman tentara Jepang. Keberadaan beliau kini belum diketahui lagi," tutur dia.