Gubernur Jateng Tertarik Jaring Pengganti Cantrang Karya Nelayan Batang

Jaring pengganti cantrang karya nelayan Batang pada Pameran Produk Inovasi 2017 di Gelanggang Olahraga Jetayu Kota Pekalongan, Jumat (15/9)
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tertarik dengan alat tangkap ikan pengganti cantrang karya nelayan asal Batang, Aziz Tarsono. Karya Aziz menjadi salah satu pemenang dalam ajang Kreasi dan Inovasi (Krenova) 2017 yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Pemprov Jateng.

"Tolong didalami yang cantrang, apakah bisa dihilirisasi diproduksi massal agar nelayan bisa segera bermigrasi dari cantrang," kata Ganjar ketika membuka Pameran Produk Inovasi 2017 di Gelanggang Olahraga Jetayu Kota Pekalongan, Jumat (15/9).

Pada kesempatan itu, Ganjar sekaligus melihat demo jaring modifikasi karya Aziz. Warga Dukuh Sulur RT 04 RW 05 Kelurahan Karangasem Utara, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang itu menunjukkan cara kerja jaring yang masih berupa prototipe itu.

Aziz membuat dua model jaring yang diberi nama Apollo dan Kelelawar sejak 2015. Alat temuannya itu diklaim lebih ramah lingkungan, hemat bahan bakar hingga 80 persen, praktis, dan hasil tangkapan lebih baik. "Ini baru diuji coba di kolam dan hasilnya memuaskan, bisa menggantikan cantrang karena hasil tangkapannya sangat banyak tanpa merusak terumbu karang dan hanya menangkap ikan besar," kata Aziz.

Ganjar semakin tertarik karena jaring Aziz hanya membutuhkan biaya produksi di bawah Rp 50 juta. Namun konstruksi yang dibuat Aziz baru mencakup kapal berukuran 10 hingga 30 GT (Gross Ton).

"Coba dirancang untuk kapal di bawah 10 GT. Kalau bisa bagus kita kembangkan, apalagi biaya produksinya murah sekali dibandingkan jaring lainnya," kata Ganjar.

Para juara Krenova 2017 mendapat penghargaan yang diserahkan langsung Gubernur Ganjar. Selain karya Aziz, ada karya keramik berbahan mineral lokal sari Nuansa Boyolali, Sihegi lampu hemat energi dari Purworejo, mesin serut bambu 3 in 1 dari Karanganyar, mie sehat bebas gluten Purworejo, teknologi pembuatan telur asin tiga jam dari Sragen, omah setrum pintar Blora, lemari pengering pakaian Sukoharjo, mesin kristalisasi Kota Semarang, mesin pengolah dan penguji pupuk organik Jepara, dan paving berbahan sampah plastik dari Purbalingga.

"Ini semua harus dikembangkan, jangan cuma jadi prototype," kata Ganjar.

Selain para pemenang Krenova, ditampilkan juga produk inovasi dari berbagai instansi, UMKM dan swasta. Total ada 130 stand yang berpameran hingga 17 September itu.

Pameran dimeriahkan dengan berbagai event pendukung. Di antaranya seminar dari Badan Ekonomi Kreatif, lomba rampak barang bekas, lomba robotik, serta kontes modifikasi motor dan mobil

Gubernur dari PDI Perjuangan itu juga menantang para ilmuwan untuk membuat teknologi yang tepat guna. Misalnya mesin pembuat garam. Dengan sumber daya air laut berlimpah, sudah seharusnya Indonesia bisa merekayasa teknik pembuatan garam secara lebih cepat dan massal.

Alat lain yang dibutuhkan menurut Ganjar adalah pemecah masalah kekeringan. Juga teknologi untuk membantu petani dalam meningkatkan produktifitas hasil pertanian hingga tingkat pemasarannya.

Gubernur juga menghadiri seminar bersama 500 pelaku industri kreatif yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif. Dalam materinya, Ganjar menekankan kreatifitas pelaku industri kecil dalam mengemas produk. "Batik misalnya, kalau dikemas dengan kotak kayu yang unik dan berkesan vintage maka akan menghasilkan industri turunan di mana pelaku kreatif bisa berperan. Produk dengan kemasan unik harganya lebih mahal," katanya.

Bukan saja industri packaging yang bisa berperan, juga anak-anak muda kreatif yang jago dalam video, desain grafis, dan animasi. "Mereka bisa dilibatkan dalam promo produk yang lebih menarik dan menyenangkan," tegasnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Pemprov Jateng Sudjarwanto Dwiatmoko menyatakan siap mendampingi pemenang Krenova dalam pengembangan produk. Para inventor (penemu) akan dilibatkan dalam program inkubator wirausaha bisnis. Di sini mereka akan mendapat pendampingan dalam pengembangan dari riset teknologi, uji produk, hingga trial market.

"Sampai proses sertifikasi Haki juga, sehingga ketika terjun ke pasar sudah siap dengan patennya," tegasnya.

Sumber: merdeka