Keripik Bonggol Pisang, Jajanan Khas Desa Gunungsari


Wisatawan berkunjung ke Hutan Pinus Desa Gunungsari Kecamatan Tlogowungu seringkali terkecoh dengan salah satu kuliner khas daerah tersebut.

"Sekilas mirip tempe tapi kalau mereka sudah baca tulisan yang ada di kemasannya biasanya mereka tambah antusias untuk membeli", ujar Rushadi Ketua Bumdes (Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Gunungsari.

Hal itu, lanjut Rushadi, lantaran bahan dasar yang digunakan untuk membuat keripik tergolong unik dan jarang dijumpai di daerah lain di Kabupaten Pati. Terlebih pada umumnya bonggol pisang yang menjadi bahan dasarnya selama ini justru sering dibiarkan membusuk, usai buah pisangnya dipanen.

"Ini awalnya kan gagasan ibu-ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Wanita Sejahtera (PWS). Mereka memanfaatkan bonggol pisang tak terpakai menjadi olahan yang nikmat ", terangnya.

Gagasan itu muncul saat sejumlah anggota PWS melihat banyak pohon pisang di desa mereka yang ditebang dan dibiarkan membusuk, usai dipanen buahnya. Padahal, bonggol pisang memiliki potensi yang bagus untuk dijadikan sebagai salah satu sumber pangan.

“Dari pemikiran itu, ibi-ibu mencoba untuk membuat keripik. Ternyata rasanya enak. Setelah itu  mereka berpikir untuk menjualnya,” imbuh Rushadi.

Bonggol pisang yang dimodifikasi menjadi keripik gurih dan enak tersebut juga memiliki kemasan yang cukup menarik. Pembeli juga tak perlu was-was dengan kualitas pangan lantaran di kemasannya sudah tercantum izin pangan industri rumah tangga (P-IRT) dengan nomor 20633180220416-21.

Hasil olahannya pun semakin digemari pembeli, karena tidak menggunakan bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi. Sejauh ini, keripik bonggol pisang baru dipasarkan di wilayah Kabupaten Pati. Satu bungkus keripik bonggol pisang dijual sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu.